Rabu, 15 Februari 2012

Antropologi budaya

PERUBAHAN KEBUDAYAAN

Semua kebudayaaan pada suatu waktu berubah karena bermacam-macam sebab. Dan penyebab dari perubahan tersebut adalah perubahan lingkungan yang dapat menuntut perubahan kebudayaanyang bersifat adaptif, karena kebetulan, kontak dengan bangsa lainsehingga diterimanya gagasan asing.

Tingkat dan arah perubahan kebudayaan tergantung pada beberapa faktor, antara lain adalah sampai berapa jauh suatu kebudayaan mendorong dan merestui fleksibilitas, kebutuan khusus kebudayaan pada suatu waktu tertentu, dan tingkat kecockan anasir baru dengan pola kebudayaan yang ada.

Mekanisme yang terkait dengan perubahaan kebudayaan dalam perubahan kebudayaan adalah penemuan baru, difusi, hilangnya unsur kebudayaan, dan akulturasi.

Perubahan kebudayaan melalui penemuan baru adalah mengacu pada penemuan cara kerja, alat, atau prinsip baru oleh seseorang individu, yang kemudian diterima oleh orang lain dan dengan demikian menjadi milik masyarakat.

Istilah penemuan baru selanjutnya dapat dibagi dibagi menjadi dua yaitu,

Ø Penemuan primer, adalah penemuan prinsip baru secara tidak disengaja.misalnya,penemuan bahwa pembakaran tanah liat membuat bahan tersebut keras selama-lamanya.

Ø Penemuan sekunder adalah perbaikan dengan menerapkan prinsip-prinsip yang sudah diketahui, misalnya, memberi bentuka pada tanah liat yang hendak dibakar dengan menggunakan teknik yang dikuasai menjadi objek-objek dikenal.

Hilangnya unsur kebudayaan berarti dibuangnya unsur atau praktek kebudayaan tanpa ada gantinya.Beberapa teori antropologi yang berusaha menerangkan dinamika perubahan yang dipaksa dengan kekerasan antara lain; kolonialisme dan penaklukan, pemberontakan dan revolusi, dan gerakan kebangkitan.

Adapun variasi kebangkitan adalah transisional yang mempercepat proses akulturasi sehingga lebih banyak menikmati keuntungan, milenarisme yang mengangkat golongan paria yang tertindas, nativis yang berusaha menyusun kembali cara kehidupan yang rusak tetapi belum dilupakan, revolusioner yang pertama-tama untuk melawan sistem ideologi dan struktur sosial dalam kebudayaan, dan modernisasi yang merupakan proses perubahan kulturak dan sosioekonomis di masyarakat yang sedang berkembang.

Proses modernisasi terdiri atas empat subproses,diantaranya ialah perkembangan teknologi, perkembangan pertanian, industrialisasi, dan urbanisasi. Hal-hal lain yang menyertai modernisasi adalah:

  1. Diferensiasi struktural: Pembagian tugas tradisional yang satu, yang mengandung dua fungsi atau lebih menjadi dua tugas atau lebih, masing-masing dengan tugas tunggal yang khusus.
  2. Mekanisme integrasi: Mekanisme budaya, seperti ideologi nasional, partai politik, kode hukum, yang maenangkal diferensiasi dalam masyarakat.
  3. Tradisi: Dalam masyarkat yang sedang mengadakan modernisasi, kebiasaan kultural kuno, yang dapat merintangi kekuatan diferensiasi dan integrasi baru.

TEORI-TEORI EVOLUSI KEBUDAYAAN

1.PROSES EVOLUSI SECARA UNIVERSAL

Menurut konsepsi tentang proses evolusi sosial universal, semua hal tersebut harus dipandang dalam rangka masyarakat manusia yang telah berkembang dengan lambat (berevolusi), dari tingkat-tingkat yang rendah dan sederhana, ketingkat yang makin lama makin tinggi dan komplex.

2.KONSEP EVOLUSI SOSIAL UNIVERSAL H.SPENCER

Pada tingkat evolusi sosial, waktu timbul masyarakat industri, dimana manusia menjadi sedemikian besarnya hingga kekuasaan otoriter rajapun tidak lagi cukup.

3.TEORI EVOLUSI KELUARGA JJ.BACHOFEN

Dalam teori ini memuat matriarchate, patriarchate, exogami, endogami serta susunan parental.

4.TEORI EVOLUSI KEBUDAYAAN INDONESIA

Anggapa Wilken tentang hukum adat di Indonesia sering dipandang sebagai dasar untuk perkembangan berbagai macam konsepmengenai hukum adat di Indonesia

5.TEORI EVOLUSI KEBUDAYAAN L.H MORGAN

Morgan mendapatkan suatu cara untuk mengupas semua sistem kekerabatan dari semua suku bangsa di dunia yang jumlahnya beribu-ribu itu, yang masing masing sangat berbeda bentuknya. Cara itu didasarkan pada gejala kesejajaran yang seringkali ada di antara sistem istilah kekerabatan ( system of kinship terminology) dan sistem kekerabatan (kinship system).Menurut Morgan, masyarakat dari semua bangsa di dunia sudah atau masih akan menyelesaikan proses evolusinya melalui kedelapan tingkat evolusi yaitu : Zaman Liar Tua, Zaman Liar Madya, Zaman Liar Muda, Zaman Barbar Tua, Zaman Barbar Madya, Zaman Barbar Muda, Zaman Peradaban Purba, dan Zaman Peradaban Masakini.

6.TEORI EVOLUSI RELIGI E.B. TYLOR

Penelitian Tylor mengenai tingkat-tingkat evolusi kebudayaan manusia telah menimbulkan padanya konsep survivals, faham survivals itu menjadi alat yang penting sekali bagi para penganut evolusionisme dalam menganalisa kebudayaan dan dalam menentukan tingkat evolusi dari tiap kebudayaan itu. Tylor menerangkan adanya unsur-unsur kebudayaan seperti motif, dongeng mitologi, permainan, bentuk bajak dsb.

7.TEORI J.G FRAZER MENGENAI ILMU GAIB DAN RELIGI

Manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya, tetapi akal dan sistem pengetahuan ada batasnya. Makin terbelakang kebudayaan manusia, makin sempit lingkaran batas akalnya. Soal-soal hidup yang tak dapat dipecahkan dengan akal dipecahkan dengan magic, ilmu gaib. Menurut Frazer, magic adalah semua tindakan manusia untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada di dalam alam, serta seluruh komplex anggapan yang ada di belakangnya

8.MENGHILANGNYA TEORI-TEORI EVOLUSI KEBUDAYAAN.

Pada akhir abad ke-19 mulai timbul kecaman-kecaman terhadap cara berpikir dan cara bekerja para sarjana penganut evolusi kebudayaan. Dengan demikian mulai tampak bahwa tingkat-tingkat evolusi dari para penganut teori-teori evolusi kebudayaan itu hanya merupakan konstruksi-konstruksi pikiran saja, yang tidak sesuai dengan kenyataan dan yang lama kelamaan tidak dapat dipertahankan lagi.

DIFFUSIONISME

TEORI PENYEBARAN DALAM ANTROPOLOGI

Diffusionisme merupakan salah satu teori dalam antropologi budaya yang bertujuan untuk menjawab masalah pokok dalam antropologi, yakni bagaimana persamaan dan perbedaan antar ratusan kebudayaan di dunia bisa muncul atau terjadi dan bagaimana hal itu berlangsung di masa lalu. Pandangan penganut aliran diffuse tidaklah bersifat tunggal.

Paling tidak ada tiga varian yang berbeda, yang masing-masing yang masing-masing menganut pandangan yang berbeda mengenai manusia dan kebudayaan, serta dapat dibedakan berdasarkan negara asal para penggagas teori tersebut, yakni:

1.kulturkreise : aliran difusi dari jerman-austria

a. Aliran Kulturkreise (lingkaran kebudayaan) dari F.Graebner

Masalah pokok yang dikemukakan Graebner adalah untuk mengetahui dan mengatakan bahwa dalam suatu daerah budaya tertentu ada lapisan budaya yang disisipkan satu diatas yang lain.hal itu mungkin saja dilakukan asal kajian tidak dilakukan dengan melihat seluruh dunia sekaligus, tetapi dimulai dengan memperhatikan beberapa daerah kebudayaan saja dan kemudian mempelajarinya dengan teliti, yaitu hanya pada gejala-gejala kebudayaan tertentu yang tidak begitu mudah dialihkan.

b. Aliran Kulturkreise dari Peter Wilhelm Schmidt S.V.D

Scmidt membedakan kebudayaan-kebudayaan manusia di masa lampau menjadi dua kategori, yakni : kebudayaan purba dan kebudayaan primer.

3.Aliran “pusat diffusi kebudayaan”

a. teori Pan-Babylonisme

H.winckler berpendapat bahwa semua mitos adalah mitos astral, atau mitos mengenai benda-benda langit. Mitos semacam ini bagaimanapun juga didasarkan atas pengetahuan yang matang tentang gerak benda-benda langit, dan ini tentunya muncul dikalangan mereka yang memiliki pengetahuan semacam itu. Mereka ini adalah orang-orang Babylon yang pengetahuan tentang benda-benda angkasa ternyata jauh lebih maju daripada bangsa-bangsa lain dimuka bumi pada masa itu.

b. teori Pan-Mesirisme

semua kebudayaan yang tinggi, sebut saja peradaban, pasti berasal dari mesir. Teori ini jelas tidak banyak perbedaanya dalam hal isi dengan teori Pan-Babylonisme. Hanya pusat persebaran kebudayaan saja yang digeser.

4.Aliran Partikularisme Historis

5.Kajian “Wilayah Kebudayaan” Di Amerika Serikat

6.Kritik terhadap teori penyebaran kebudayaan

7.Dari diffusi ke akulturasi

8.Penyebaran kebudayaan: Penajaman analisis

9.Metode penelitian penyebaran kebudayaan

Metode yang biasa digunakan, yakni:rekonstruksi historis, kajian kembali, dan pemantauan yang terus menerus.

10.Globalisasi: Teori diffusi kebudayaan dengan kemasan baru.

MASA DEPAN MANUSIA

Kebudayaan merupakan sarana yang utama bagi umat manusia untuk mencoba memecahkan berbagai masalah kehidupannya. Ahli antroppologi tidak dapat lebih tepat meramalkan masa depan bentuk kebudayaan . Akan tetapi, mereka dapat mengidentifikasikan kecenderungan-kecenderungan tertentu, yang kalau tidak demikian mungkin tidak akan kita sadari dan mereka dapatc memperkiraan sebelumnya beberapa akibat yang dapat diharapkan kalau pols keadaan itu berlanjut.

Dewasa ini banyak terdapat tendensi-tendensi dalam evolusi kebudayaan. Salah satu tendensi besar dalam evolusi kebudayaan saat ini adalah kecenderungan untuk meniru produk, teknologi, dan praktek-praktek dunia industry. Akan tetapi, kecenderungan yang berat sebelah kea rah satu kebudayaan dunia yang homogeny itu diimbangi oleh tendensi lain yang amat kuat dan berlawanan, yang menuju kea rah pertumbuhan masyarakat yang prularis.

Gambaran yang muncul dari bentuk kebudayaan yang akan dating akan ditentukan oleh keputusan umat manusia yang harus dilakukan salah satunya adlah sistem apharteid. Salah satu konsekuensi sistem apharteid adalah banyaknya kekerasan structural yang ditimbulkan oleh situasib, kelembagaan, structural politik, sosial, dan ekonomi.

Kekerasan seperti itu yang meliputi terlalu banyaknya penduduk yang kekurangan pangan, polusi dan ketidakpuasan yang tersebar luas di seluruh dunia. Mengatasi masalah-masalah kekerasan structural yang dihadapi oleh species manusia dewasa ini, barangkali hanya mungkin dilaksanakan kalau kita dapat menurunkan angka kelahiran. Saat ini banyak metode keluarga berancana yang efektif.

Sejumlah masalah masyarakat dunia juga tergantung pada berkurangnya kesenjangan antara tingkat hidup Negara-negara miskin dan maju. Ini akan menuntut perubahan-perubahan yang nilai yang dramastis dalam masyarakat Barat yang berorientasi pada materi dan kepada konsumen.

KONSEPSI-KONSEPSI MENGENAI PERUBAHAN KEBUDAYAAN

1.Perubahan Kebudayaan,Akulturasi, dan Inovasi

Teori-teori itu menggambarkan adanya gerak-gerak migrasi dari bangsa-bangsa yang mereka jumpai di daerah-daerah yang mereka lalui ketika bermigrasi,sehingga menyebabkan perubahan kebudayaan-kebudayaan itu.

2.Metode-Metode Untuk Mengamati, Melukiskan, dan Menganalisis Suatu Proses Akulturasi

Suatu metode untuk mengobservasi suatu proses akulturasi yang terjadi dalam suatu masyarakat, adalah Metode reported observation at intervals, yang mewajibkan peneliti untuk mengamati suatu masyarakat yang sedang mengalami pengaruh kebudayaan asing dengan beberapa kunjungan yang dilakukan dengan selisih waktu bebeapa tahundi antara tiap kunjungan.

3.Jalannya Suatu Proses Akulturasi

Dalam proses akulturasi diferensial , telah muncul pula konsep mengenai proses transformasi dari kebudayaan folk dan petani desa tradisional maupun kebudayaan kota industry.

4.Masalah Psikologi Dalam Suatu Proses Akulturasi

Dalam tiap masyarakat dapat dipastikan ada individu-individu dengan watak kolot, tetapi ada juga individu-individu dengan watak yang progresif. Masalah sebab musabab yang lebih mendalam mengenai adanya individu yang lebih progresif daripada yang lain.

5.Masalah Timbulnya Inovasi

Suatu gejala penting yang menyebabkan terjadinya inovasi adalah penemuan baru dalam bidang teknologi.

6.Gejala Penolakan Atau Penghindaran Akulturasi

Masyarakat yang sedang mengalami transisi yang cukup kuat, mereka mampu menyusun kekuatan untuk menentang unsure-unsur yang baru itu dan menghentikan proses akulturasi itu untuk sementara waktu.

7.Kerangka-kerangka Neo-Evolusionis

Teori-teori yang dikembangkan secara deduktif oleh para ahli evolusionisme kebudayaan dan difusi unsure-unsur kebudayaan.

Selasa, 14 Februari 2012

Analisis Perubahan Sosial Masyarakat Badui


I.PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
      Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Pada masyarakat-masyarakat dengan kebudayaan primitif, yang hidup terisolasi jauh dari berbagai jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain di luar dunianya sendiri, perubahan yang terjadi dalam keadaan lambat. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif tersebut, biasanya telah terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, yaitu karena perubahan dalam  jumlah penduduknya dan karena perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.
      Perubahan yang terjadi pada masyarakat baik modern maupun primitif disebut dengan perubahan sosial dimana perubahan ini tidak terlepas sebagai akibat dari interaksi sosial masyarakat itu sendiri. Perubahan sosial adalah variasi dari cara-cara hidup yang diterima yang disebabkan oleh perubahan-perubahan  kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology, difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.(John Lewis Gillin)
      Perubahan sosial terjadi karena bermacam-macam factor yang mempengaruhi dan terdiri dari berberapa bentuk. Perubahan sosial pada masyarakat primitive termasuk dalam evolusi, karena merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang berlangsung lambat. Hal ini terjadi dikarenakan keadaan masyarakat yang berwatak keras dan sulit  menerima kebudayaan baru serta meninggalkan adat daerahnya. Sehingga, menyebabkan kebudayaan lain sukar masuk dan menyebabkan perubahan sosial.
     Sedangkan ciri dari evolusi itu antara lain, perubahan itu seolah-olah tidak terjadi, berlangsung secara lambat dan umumnya tidak menyebabkan disintegrasi kehidupan. Dan ini sesuai dengan perubahan sosial masyarakat primitif masyarakat Badui.


B. Permasalahan
1.      Bagaimanakah perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat badui?
2.      Adakah upaya yang dilakukan masyarakat Badui untuk melakukan perubahan kebiasaan mereka yang primitif?

C. Tujuan
1.      Menganalisis perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Badui terhadap teori sosiologi (perubahan sosial) yang sesuai.
2.      Menjelaskan upaya masyarakat Badui dalam melakukan perubahan kebiasaan mereka yang primitif














II. PEMBAHASAN

A.    Contoh Kasus Perubahan Sosial Masyarakat Badui
KOMPAS – Senin, 27 Sep 2004
      Dalam hal makanan, orang Baduy tergolong sangat fanatik. Mereka tidak mau menyantap makanan selain makanan tradisional yang mereka santap setiap hari. Maklum, masyarakat yang tinggal di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini sangat memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka hingga saat ini.
     Mereka tidak akan menyantap jenis makanan yang tidak dimakan nenek moyang mereka. Mereka juga  tidak akan melakukan kebiasaan yang dulunya tidak pernah dilakukan nenek moyang mereka. Kebiasaan mandi  tidak menggunakan sabun masih berlangsung hingga saat ini.
      Tidak memakai sabun mandi bukan berarti mereka tidak punya uang, tetapi benar-benar demi mengikuti kebiasaan orangtua mereka. Kalau ada warga Baduy yang coba-coba memakai sabun saat mandi dan sampai ketahuan, pasti mendapat teguran keras. Teguran ini bisa berujung pada pemecatan sebagai warga Baduy Dalam.
     Akan tetapi, orang Baduy adalah manusia biasa yang punya keinginan untuk sedikit berbeda. Ketika di antara mereka berjalan-jalan menuju daerah lain atau bahkan hingga Jakarta dengan berjalan kaki, ada juga yang ingin mencoba minuman Sprite atau Coca-Cola.
     Ketika Kompas mengajak beberapa warga Baduy Dalam berjalan-jalan hingga ke Rangkasbitung, di tengah jalan mereka haus. Saat ditawari minum, mereka ternyata memilih minuman Coca-Cola di kotak minuman pinggir jalan. Coca- Cola adalah jenis minuman yang tidak dikenal kakek-nenek mereka.
     “Saya pernah makan di McDonaldÆs,” tutur Jakri (29), salah seorang warga Baduy Dalam. Makan di restoran waralaba dari Amerika Serikat itu rasanya bukan hal yang aneh, namun terasa janggal untuk Jakri yang berasal dari Kampung Cibeo, Kecamatan Leuwidamar.
      Masyarakat Baduy hidup dengan aturan adat yang ketat. Di Baduy Dalam, pikukuh atau aturan adat adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Hal ini berbeda dengan Baduy Luar yang masih memperbolehkan naik kendaraan. Meskipun melihat berbagai barang berteknologi yang dibawa oleh wisatawan, masyarakat Baduy Dalam masih mempertahankan adat mereka.
     Mereka masih “setia” berjalan kaki, mengedepankan kejujuran, menolak mencemari lingkungan (tanah dan air), dan tidak merokok. Baduy Dalam menerapkan adat lebih ketat dibandingkan dengan BaduyLuar.
      Salah satu perbedaannya, warga Baduy Luar diperbolehkan berkendaraan. Menurut Jaro Cikeusik, Alim, apa yang dibawa masyarakat luar-sepanjang tidak bertentangan dengan adat-tidak memengaruhi kehidupan masyarakat Baduy Dalam. Jaro Alim menegaskan, adat yang dilanggar diyakini bisa menyebabkan bencana alam dan mengundang berbaga ipenyakit.
      Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampungBaduy.
      Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya. Kampung Baduy Luar sering disebut kampung panamping atau pendamping, yang berfungsi menjaga Baduy Dalam.
     Untuk menuju Baduy Dalam, pengunjung bisa naik mobil dari Rangkasbitung ke terminal Ciboleger atau menyewa sampai ke Cijahe,lalu diteruskan dengan berjalan kaki untuk sampai ke kampung Baduy Dalam
     Dalam keseharian, kaum lelaki dari Baduy Dalam menggunakan ikat kepala putih. Kecuali pu’un atau pemimpin adat, para lelaki menggunakan baju hitam dan sarung selutut berwarna biru tua bercorak kotak-kotak. Kaum perempuan menggunakan sarung batik biru, kembenbiru, baju luar putih berlengan panjang. Gadis gadis menggunakan gelang dan kalung dari manik.
     Lelaki dari Baduy Luar menggunakan ikat kepala biru bermotif batik. Perempuannya menggunakan kain batik dan baju biru tua atau hitam. Namun, banyak juga di antara mereka berkaus dan bercelana jins.
     Menurut Yuli (33), warga Baduy Luar, dalam sebulan ratusan orang datang ke Baduy. Mereka berlatar belakang pendidikan, ekonomi, dansosial yang beragam. Interaksi warga Baduy dengan masyarakat lain menyebabkan perubahan gaya hidup warga Baduy.
     Menurut pakar budaya dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI, Prof Dr Ayatrohaedi (65), perubahan pada suatu masyarakat tidak dapat dihalangi. Adat tak dapat berbuat banyak menghadapi perubahan. Adat sering kali hanya menerapkan peraturan, namun tidak mampu menindak.
     Kalau dulu masyarakat Baduy cukup makan dengan nasi, ikan asin dan garam, kini mereka gemar makan mi instan. Menurut Nasib (25), salah seorang pedagang makanan yang berkeliling dari Baduy Luar hingga Baduy Dalam, rata-rata sepekan ia bisa menjual 10 kardus atau400 bungkus mi instan.
     Tak cuma mi instan, menyantap spageti dengan sumpit pun tidak membuat mereka kikuk. Awal September lalu, Narpa (45) dan dua anaknya, serta beberapa lelaki Baduy lahap menyantap makanan Italia yang disajikan tamu dari Jakarta yang menginap di rumahnya. Hanya istri Narpa saja yang mengaku tidak doyan.
     Pergeseran selera makan pun terjadi pada anak-anak. Jarmin (46), warga Kampung Cibeo, mengaku, di masa anak-anak ia hanya memakan pisang bakar sebagai camilan. Kini ia harus mengeluarkan Rp 10.000 untuk jajan tiga anaknya yang gemar camilan-camilan dalam kemasan, permen, atau minuman kemasan.
     Penjual makanan datang dari luar Cibeo sebab masyarakat Baduy Dalam tidak diperkenankan berdagang oleh adat. Peraturan adat hanya melarang masyarakat Baduy untuk makan daging kambing, anjing, dan kucing serta minum sesuatu yang memabukkan. Aturan ini menyebabkan es lilin, minuman ringan (soft drink), susu,roti, dan makanan ringan dengan mudah diterima masyarakat Baduy.
     Jika bepergian ke kota, orang Baduy Dalam biasa membawa oleh-oleh buah-buahan atau makanan yang tak ada di kampungnya. “Habis enggak ada lagi yang boleh dibeli,” ungkap Sanif (25), warga Baduy Dalam berambut gondrong yang biasa membawa jeruk, apel, anggur, dan kelengkeng.
     Di Jakarta, beberapa kali mereka dijamu makan di restoran mewah oleh kenalannya. Jangan heran kalau orang-orang Baduy Dalam bisa bercerita soal Toserba Sarinah atau Mal Pondok Indah.
     Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio. “Kalau boleh beli motor, mau juga sih punya,” kata Saliya (27) sambil tertawa.
    Orang Baduy Luar maupun Dalam kadang-kadang nonton televisi dirumah warga luar Baduy. Orang-orang Cibeo menonton di Ciboleger yang jaraknya sampai 12 km. Sementara orang Baduy dari Kampung Batu belah menonton ke Cijahe yang jaraknya 3 km.
   “Kalau malam, orang-orang Baduy datang dengan membawa obor untuk menonton televisi,” tutur Acih, seorang warga Cijahe. “Nonton mah meunang. Mun boga tivi, teu meunang ku adat,” ujar Kuenci (67), buruh tani yang mengatakan bahwa adat tidak melarang mereka menonton, yangtidak diperbolehkan adalah memiliki televisi.
    Kuenci selalu mampir untuk menonton televisi sepulang bertani di Leuwidamar. Jumat (3/9) siang, ia tengah menonton siaran berita, mengaku meski tak mengerti bahasa Indonesia, tapi ia menyukai gambar-gambar bergerak di televisi.
    Sanip (28) yang tiga bulan lalu berganti status dari Baduy Dalam menjadi Baduy Luar pun sudah menggunakan jam tangan. Begitu juga Saliya yang sejak lahir berstatus warga Baduy Luar. “Jam ini dikasih teman tahun kemarin,” ucap Saliya. Ia mengaku belajar membaca jam tangan selama setahun.
   Buat Saliya dan Sanip, fungsi jam tidak hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi juga untuk “gaya-gayaan”. Saliya yang berasal dari Kampung Kaduketug dan Sanip dari Kampung Balimbing menanggalkan jam tangan sebelum masuk kampungnya.
    “Tidak berani pake, takut kena marah orang tua atau jaro,” kata Saliya, ayah dua anak ini. Jaro adalah wakil dari pemimpin adat yang berhubungan langsung dengan warga. Jaro terdapat di setiap kampong Baduy. Jaro berkedudukan di bawah pu’un.
    Di Kampung Kaduketug (Baduy Luar), banyak warga memiliki radio. Setiap sebulan sekali, jaro memperingatkan warga agar selalu taat pada adat. “Sebetulnya sih takut. Tapi jaro-nya juga punya,” kata Antiwin (26).
     Tak cuma radio, Yuli warga Baduy Luar bahkan sudah punya telepon
seluler atau ponsel. Beberapa warga Baduy Dalam, meski tak punya ponsel dan tak dapat baca-tulis, dapat menggunakan telepon. Jangan kaget jika ada orang Baduy Dalam bilang, “Saya minta alamat dan nomor HP kamu, ya.” “Saya suka telepon lewat wartel di Ciboleger. Tadinya memangenggak kenal angkanya. Tetapi, disamakan saja antara gambarnomorditelepondandicatatansaya,”ungkapJarmin.  
  
    Orang Baduy sehari-hari berbahasa Sunda kasar. Bahasa yang dipakai mereka tidak mengenal tingkatan bahasa atau pemakaian bahasa berdasarkan status sosial. Rasa hormat pada orang lain tidak diperlihatkan lewat kata-kata khusus, tetapi lewat tingkah laku mereka.
     Adat mengharuskan mereka berbahasa Sunda untuk mempertahankan kemurnian budaya masyarakat. Namun, tak sulit menemukan orang Baduy yang bisa berbahasa Indonesia, terutama di Baduy Luar. Mereka yang fasih berbahasa Indonesia biasanya orang-orang yang sering bepergian ke kota.   
     Selain berbahasa Indonesia, beberapa orang Baduy Dalam bisa pula menggunakan kata-kata berdialek Betawi, bahkan mengeluarkan kosakata bahasa Inggris. “Temen saya yang tinggal di Pondok Indah, Jakarta, punya istri orang Australia. Saya sering denger mereka ngomong bahasa Inggris,” ujar Jakri menjelaskan dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang bahasa Inggris.
    Orang Baduy juga senang bercanda, tetapi hanya dengan orang yang sudah dikenalnya. “Kalau belum kenal, saya diam saja,” aku Sanif yang sering bercanda dan saling bertukar pengetahuan bahasa Indonesia dengan teman-temannya. Sanif juga bisa berdialek Betawi karena sering berdagang di Jakarta.
     Berteman akrab dengan orang Baduy Dalam tidak sulit karena orang-orang Baduy bersikap terbuka terhadap orang asing. Ayatrohaedi membenarkan hal itu. Sewaktu ia datang ke Baduy tahun 1967 dan tidak memiliki tempat menginap, seorang warga Baduy dengan tulus menawari untuk menginap di rumahnya. (Y01/Y02/Y09/Y10/nas)
    “Perubahan pada suatu masyarakat tidak dapat dihalangi. Adat tak dapat berbuat banyak menghadapi perubahan. Adat sering kali hanya menerapkan peraturan, namun tidak mampu menindak.”

B.Analisis
Jika kita melihat ulasan di atas, dapat kita analisis bahwa Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan warga masyarakat Baduy, diawali dengan tanggapan mereka terhadap pikukuh sebagai identitas yang telah lama dipegang, adanya hubungan dengan masyarakat diluar kehidupan Baduy, menyebabkan munculnya beberapa keinginan yang dapat melanggar pikukuh, sehingga pemuka adat perlu turun tangan untuk mengatasinya.
Masyarakat Badui dapat digolongkan sebagai masyarakat masyarakat primitif. Kehidupan masyarakatnya masih memenuhi kebutuhan hidupnya pada kebutuhan-kebutuhan yang paling dasar atau pokok.
Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat baduy termasuk Teori Evolusi (Evilution Theory), karena teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahanyang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam- macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu ;Unilinear Theories Of Evolution, Universal Theories Of Evolution dan Multilined Theories Of Evolution.
Dalam masyarakat badui juga terdapat bentuk perubahan sosial yang tidak berpengaruh seperti perubahan pakaian yang diungkap di atas. Lelaki dari Badui Luar menggunakan ikat kepala biru bermotif batik. Perempuannya menggunakan kain batik dan baju biru tua atau hitam. Namun, banyak juga di antara mereka berkaus dan bercelana jins. Selain itu juga makanan mereka yang biasanya hanya ikan, kini mie instan juga mulai dikenal.
  Dalam perubahan sosial terdapat factor pendorong dan penghambat, begitu pula dengan perubahan sosial masyarakat Badui. Sebelum terjadi beberapa perubahan pada masyarakat Badui seperti keterangan harian kompas di atas, masyarakat badui mengalami suatu keadaan yang sangat primitive atau terhambatnya perubahan sosial dan  Faktor-Faktor Penghambat Perubahan tersebut di antaranya:
v  Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Sebelum adanya wisatawan asing yang mengetahui keberadaan badui kehidupan mereka normal tanpa ada gangguan perubahan sosial yang terjadi. Karena mereka hanya hidup dengan mengandalkan aturan dari tetuanya. Kehidupan terasing masyarakat badui menyebabkan mereka tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat badui menjadi statis.
v  Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan
ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, bahkan mereka memang dilarang untuk menonton tv seperti yang dijelaskan di atas. Sehingga mereka sangat sedikit sekali memperoleh informasi dan pengetahuan.
v  Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional
Pada masyarakat Badui terdapat para tetua yang masih suka mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Akan tetapi agak berbeda dengan keadaan masyarakat badui yang masih muda, mereka sedikit banyak sudah terkontaminasi dengan budaya luar.

v  Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan.
Seperti yang terjadi pada cerita di atas Dalam hal makanan, orang Baduy tergolong sangat fanatik. Mereka tidak mau menyantap makanan selain makanan tradisional yang mereka santap setiap hari. Maklum, masyarakat yang tinggal di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini sangat memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka hingga saat ini.
 Pada saat sekarang ini, akibat globalisasi terjadi perubahan pada masyarakat badui sedikit demi sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh Faktor-Faktor  Pendorong Perubahan diantaranya adalah:
v  Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain

Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Hal ini sesuai dengan kondisi masyarakat Baduy yang  tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir  sehingga  kebudayaan luar belum masuk. Selain itu, orang Baduy dalam merupakan yang paling patuh kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Pu’un (Kepala Adat). Akan tetapi seiring berjalannya waktu banyak wisatawan baik dalam maupun luar negri yang datang mengunjungi suku Badui dengan membawa pengaruh yang bermacam-macam yang jelas berbeda dengan adat Baduy.
Walaupun demikian perubahan dapat terjadi tanpa melanggar pikukuh, karena memang perbuatan tersebut dikehendaki atau keadaan yang memaksa sehingga perubahan terjadi diluar kehendak mereka, sehingga muncul toleransi dari pemuka adat terhadap hal itu.
v  Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification )
Masyarakat Badui saat ini jauh lebih terbuka dan lebih bisa di ajak bergaul ketimbang masyarakat Badui yang terdahulu, sehingga memudahkan mereka menerima kebudayaan baru walaupun hal itu sangat di larang keras oleh tetua/pu’un mereka.
Seperti yang diungkap pada kisah di atas selain berbahasa Indonesia, beberapa orang Baduy Dalam bisa pula menggunakan kata-kata berdialek Betawi, bahkan mengeluarkan kosakata bahasa Inggris. “Temen saya yang tinggal di Pondok Indah, Jakarta, punya istri orang Australia. Saya sering denger mereka ngomong bahasa Inggris,” ujar Jakri salah satu Badui Dalam menjelaskan dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang bahasa Inggris. Selain itu berteman akrab dengan orang Baduy Dalam tidak sulit karena orang-orang Baduy bersikap terbuka terhadap orang asing.
v  Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka saat ini menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio.  Sehingga mau tidak mau mereka berfikir untuk bisa mengikuti tren saat ini dan menunjukkan bahwa mereka juga merasa kurang puas dengan tekhnologi  yang mereka punya selama ini. Mereka ingin memiliki pengetahuan yang lebih dengan menonton tv atau mendengarkan radio.

III. PENUTUP
A.      Kesimpulan
    Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy.
      Masyarakat Badui dapat digolongkan sebagai masyarakat masyarakat primitif. Kehidupan masyarakatnya masih memenuhi kebutuhan hidupnya pada kebutuhan-kebutuhan yang paling dasar atau pokok.
   Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan
dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat.
Seperti masyarakat lain, mereka menonton televisi, menggunakan jam
tangan, dan bahkan memiliki radio. Inilah yang menjadi salah satu perubahan sosial masyarakat badui.
Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat baduy termasuk Teori Evolusi (Evilution Theory), karena teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahanyang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam- macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu ;Unilinear Theories Of Evolution, Universal Theories Of Evolution dan Multilined Theories Of Evolution.
B.      Saran
Sangatlah penting bagi kita sebagai mahasiswa ilmu sejarah  untuk mengetahui perubahan kebudayaan masyarakat badui yang memiliki sejarah dan kebudayaan unik di Negara kita.Karena dengan mengetahuinya kita bisa menilai mana perubahan yang negative dan positif, sehingga kita dapat melestarikan kebudayaan masyarakat badui yang harusnya terjaga akan tetap utuh.
IV. DAFTAR PUSTAKA

ü  Materi Sosiologi