Selasa, 14 Februari 2012

Analisis Perubahan Sosial Masyarakat Badui


I.PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
      Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Pada masyarakat-masyarakat dengan kebudayaan primitif, yang hidup terisolasi jauh dari berbagai jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain di luar dunianya sendiri, perubahan yang terjadi dalam keadaan lambat. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif tersebut, biasanya telah terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, yaitu karena perubahan dalam  jumlah penduduknya dan karena perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.
      Perubahan yang terjadi pada masyarakat baik modern maupun primitif disebut dengan perubahan sosial dimana perubahan ini tidak terlepas sebagai akibat dari interaksi sosial masyarakat itu sendiri. Perubahan sosial adalah variasi dari cara-cara hidup yang diterima yang disebabkan oleh perubahan-perubahan  kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology, difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.(John Lewis Gillin)
      Perubahan sosial terjadi karena bermacam-macam factor yang mempengaruhi dan terdiri dari berberapa bentuk. Perubahan sosial pada masyarakat primitive termasuk dalam evolusi, karena merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang berlangsung lambat. Hal ini terjadi dikarenakan keadaan masyarakat yang berwatak keras dan sulit  menerima kebudayaan baru serta meninggalkan adat daerahnya. Sehingga, menyebabkan kebudayaan lain sukar masuk dan menyebabkan perubahan sosial.
     Sedangkan ciri dari evolusi itu antara lain, perubahan itu seolah-olah tidak terjadi, berlangsung secara lambat dan umumnya tidak menyebabkan disintegrasi kehidupan. Dan ini sesuai dengan perubahan sosial masyarakat primitif masyarakat Badui.


B. Permasalahan
1.      Bagaimanakah perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat badui?
2.      Adakah upaya yang dilakukan masyarakat Badui untuk melakukan perubahan kebiasaan mereka yang primitif?

C. Tujuan
1.      Menganalisis perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Badui terhadap teori sosiologi (perubahan sosial) yang sesuai.
2.      Menjelaskan upaya masyarakat Badui dalam melakukan perubahan kebiasaan mereka yang primitif














II. PEMBAHASAN

A.    Contoh Kasus Perubahan Sosial Masyarakat Badui
KOMPAS – Senin, 27 Sep 2004
      Dalam hal makanan, orang Baduy tergolong sangat fanatik. Mereka tidak mau menyantap makanan selain makanan tradisional yang mereka santap setiap hari. Maklum, masyarakat yang tinggal di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini sangat memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka hingga saat ini.
     Mereka tidak akan menyantap jenis makanan yang tidak dimakan nenek moyang mereka. Mereka juga  tidak akan melakukan kebiasaan yang dulunya tidak pernah dilakukan nenek moyang mereka. Kebiasaan mandi  tidak menggunakan sabun masih berlangsung hingga saat ini.
      Tidak memakai sabun mandi bukan berarti mereka tidak punya uang, tetapi benar-benar demi mengikuti kebiasaan orangtua mereka. Kalau ada warga Baduy yang coba-coba memakai sabun saat mandi dan sampai ketahuan, pasti mendapat teguran keras. Teguran ini bisa berujung pada pemecatan sebagai warga Baduy Dalam.
     Akan tetapi, orang Baduy adalah manusia biasa yang punya keinginan untuk sedikit berbeda. Ketika di antara mereka berjalan-jalan menuju daerah lain atau bahkan hingga Jakarta dengan berjalan kaki, ada juga yang ingin mencoba minuman Sprite atau Coca-Cola.
     Ketika Kompas mengajak beberapa warga Baduy Dalam berjalan-jalan hingga ke Rangkasbitung, di tengah jalan mereka haus. Saat ditawari minum, mereka ternyata memilih minuman Coca-Cola di kotak minuman pinggir jalan. Coca- Cola adalah jenis minuman yang tidak dikenal kakek-nenek mereka.
     “Saya pernah makan di McDonaldÆs,” tutur Jakri (29), salah seorang warga Baduy Dalam. Makan di restoran waralaba dari Amerika Serikat itu rasanya bukan hal yang aneh, namun terasa janggal untuk Jakri yang berasal dari Kampung Cibeo, Kecamatan Leuwidamar.
      Masyarakat Baduy hidup dengan aturan adat yang ketat. Di Baduy Dalam, pikukuh atau aturan adat adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Hal ini berbeda dengan Baduy Luar yang masih memperbolehkan naik kendaraan. Meskipun melihat berbagai barang berteknologi yang dibawa oleh wisatawan, masyarakat Baduy Dalam masih mempertahankan adat mereka.
     Mereka masih “setia” berjalan kaki, mengedepankan kejujuran, menolak mencemari lingkungan (tanah dan air), dan tidak merokok. Baduy Dalam menerapkan adat lebih ketat dibandingkan dengan BaduyLuar.
      Salah satu perbedaannya, warga Baduy Luar diperbolehkan berkendaraan. Menurut Jaro Cikeusik, Alim, apa yang dibawa masyarakat luar-sepanjang tidak bertentangan dengan adat-tidak memengaruhi kehidupan masyarakat Baduy Dalam. Jaro Alim menegaskan, adat yang dilanggar diyakini bisa menyebabkan bencana alam dan mengundang berbaga ipenyakit.
      Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampungBaduy.
      Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya. Kampung Baduy Luar sering disebut kampung panamping atau pendamping, yang berfungsi menjaga Baduy Dalam.
     Untuk menuju Baduy Dalam, pengunjung bisa naik mobil dari Rangkasbitung ke terminal Ciboleger atau menyewa sampai ke Cijahe,lalu diteruskan dengan berjalan kaki untuk sampai ke kampung Baduy Dalam
     Dalam keseharian, kaum lelaki dari Baduy Dalam menggunakan ikat kepala putih. Kecuali pu’un atau pemimpin adat, para lelaki menggunakan baju hitam dan sarung selutut berwarna biru tua bercorak kotak-kotak. Kaum perempuan menggunakan sarung batik biru, kembenbiru, baju luar putih berlengan panjang. Gadis gadis menggunakan gelang dan kalung dari manik.
     Lelaki dari Baduy Luar menggunakan ikat kepala biru bermotif batik. Perempuannya menggunakan kain batik dan baju biru tua atau hitam. Namun, banyak juga di antara mereka berkaus dan bercelana jins.
     Menurut Yuli (33), warga Baduy Luar, dalam sebulan ratusan orang datang ke Baduy. Mereka berlatar belakang pendidikan, ekonomi, dansosial yang beragam. Interaksi warga Baduy dengan masyarakat lain menyebabkan perubahan gaya hidup warga Baduy.
     Menurut pakar budaya dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI, Prof Dr Ayatrohaedi (65), perubahan pada suatu masyarakat tidak dapat dihalangi. Adat tak dapat berbuat banyak menghadapi perubahan. Adat sering kali hanya menerapkan peraturan, namun tidak mampu menindak.
     Kalau dulu masyarakat Baduy cukup makan dengan nasi, ikan asin dan garam, kini mereka gemar makan mi instan. Menurut Nasib (25), salah seorang pedagang makanan yang berkeliling dari Baduy Luar hingga Baduy Dalam, rata-rata sepekan ia bisa menjual 10 kardus atau400 bungkus mi instan.
     Tak cuma mi instan, menyantap spageti dengan sumpit pun tidak membuat mereka kikuk. Awal September lalu, Narpa (45) dan dua anaknya, serta beberapa lelaki Baduy lahap menyantap makanan Italia yang disajikan tamu dari Jakarta yang menginap di rumahnya. Hanya istri Narpa saja yang mengaku tidak doyan.
     Pergeseran selera makan pun terjadi pada anak-anak. Jarmin (46), warga Kampung Cibeo, mengaku, di masa anak-anak ia hanya memakan pisang bakar sebagai camilan. Kini ia harus mengeluarkan Rp 10.000 untuk jajan tiga anaknya yang gemar camilan-camilan dalam kemasan, permen, atau minuman kemasan.
     Penjual makanan datang dari luar Cibeo sebab masyarakat Baduy Dalam tidak diperkenankan berdagang oleh adat. Peraturan adat hanya melarang masyarakat Baduy untuk makan daging kambing, anjing, dan kucing serta minum sesuatu yang memabukkan. Aturan ini menyebabkan es lilin, minuman ringan (soft drink), susu,roti, dan makanan ringan dengan mudah diterima masyarakat Baduy.
     Jika bepergian ke kota, orang Baduy Dalam biasa membawa oleh-oleh buah-buahan atau makanan yang tak ada di kampungnya. “Habis enggak ada lagi yang boleh dibeli,” ungkap Sanif (25), warga Baduy Dalam berambut gondrong yang biasa membawa jeruk, apel, anggur, dan kelengkeng.
     Di Jakarta, beberapa kali mereka dijamu makan di restoran mewah oleh kenalannya. Jangan heran kalau orang-orang Baduy Dalam bisa bercerita soal Toserba Sarinah atau Mal Pondok Indah.
     Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio. “Kalau boleh beli motor, mau juga sih punya,” kata Saliya (27) sambil tertawa.
    Orang Baduy Luar maupun Dalam kadang-kadang nonton televisi dirumah warga luar Baduy. Orang-orang Cibeo menonton di Ciboleger yang jaraknya sampai 12 km. Sementara orang Baduy dari Kampung Batu belah menonton ke Cijahe yang jaraknya 3 km.
   “Kalau malam, orang-orang Baduy datang dengan membawa obor untuk menonton televisi,” tutur Acih, seorang warga Cijahe. “Nonton mah meunang. Mun boga tivi, teu meunang ku adat,” ujar Kuenci (67), buruh tani yang mengatakan bahwa adat tidak melarang mereka menonton, yangtidak diperbolehkan adalah memiliki televisi.
    Kuenci selalu mampir untuk menonton televisi sepulang bertani di Leuwidamar. Jumat (3/9) siang, ia tengah menonton siaran berita, mengaku meski tak mengerti bahasa Indonesia, tapi ia menyukai gambar-gambar bergerak di televisi.
    Sanip (28) yang tiga bulan lalu berganti status dari Baduy Dalam menjadi Baduy Luar pun sudah menggunakan jam tangan. Begitu juga Saliya yang sejak lahir berstatus warga Baduy Luar. “Jam ini dikasih teman tahun kemarin,” ucap Saliya. Ia mengaku belajar membaca jam tangan selama setahun.
   Buat Saliya dan Sanip, fungsi jam tidak hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi juga untuk “gaya-gayaan”. Saliya yang berasal dari Kampung Kaduketug dan Sanip dari Kampung Balimbing menanggalkan jam tangan sebelum masuk kampungnya.
    “Tidak berani pake, takut kena marah orang tua atau jaro,” kata Saliya, ayah dua anak ini. Jaro adalah wakil dari pemimpin adat yang berhubungan langsung dengan warga. Jaro terdapat di setiap kampong Baduy. Jaro berkedudukan di bawah pu’un.
    Di Kampung Kaduketug (Baduy Luar), banyak warga memiliki radio. Setiap sebulan sekali, jaro memperingatkan warga agar selalu taat pada adat. “Sebetulnya sih takut. Tapi jaro-nya juga punya,” kata Antiwin (26).
     Tak cuma radio, Yuli warga Baduy Luar bahkan sudah punya telepon
seluler atau ponsel. Beberapa warga Baduy Dalam, meski tak punya ponsel dan tak dapat baca-tulis, dapat menggunakan telepon. Jangan kaget jika ada orang Baduy Dalam bilang, “Saya minta alamat dan nomor HP kamu, ya.” “Saya suka telepon lewat wartel di Ciboleger. Tadinya memangenggak kenal angkanya. Tetapi, disamakan saja antara gambarnomorditelepondandicatatansaya,”ungkapJarmin.  
  
    Orang Baduy sehari-hari berbahasa Sunda kasar. Bahasa yang dipakai mereka tidak mengenal tingkatan bahasa atau pemakaian bahasa berdasarkan status sosial. Rasa hormat pada orang lain tidak diperlihatkan lewat kata-kata khusus, tetapi lewat tingkah laku mereka.
     Adat mengharuskan mereka berbahasa Sunda untuk mempertahankan kemurnian budaya masyarakat. Namun, tak sulit menemukan orang Baduy yang bisa berbahasa Indonesia, terutama di Baduy Luar. Mereka yang fasih berbahasa Indonesia biasanya orang-orang yang sering bepergian ke kota.   
     Selain berbahasa Indonesia, beberapa orang Baduy Dalam bisa pula menggunakan kata-kata berdialek Betawi, bahkan mengeluarkan kosakata bahasa Inggris. “Temen saya yang tinggal di Pondok Indah, Jakarta, punya istri orang Australia. Saya sering denger mereka ngomong bahasa Inggris,” ujar Jakri menjelaskan dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang bahasa Inggris.
    Orang Baduy juga senang bercanda, tetapi hanya dengan orang yang sudah dikenalnya. “Kalau belum kenal, saya diam saja,” aku Sanif yang sering bercanda dan saling bertukar pengetahuan bahasa Indonesia dengan teman-temannya. Sanif juga bisa berdialek Betawi karena sering berdagang di Jakarta.
     Berteman akrab dengan orang Baduy Dalam tidak sulit karena orang-orang Baduy bersikap terbuka terhadap orang asing. Ayatrohaedi membenarkan hal itu. Sewaktu ia datang ke Baduy tahun 1967 dan tidak memiliki tempat menginap, seorang warga Baduy dengan tulus menawari untuk menginap di rumahnya. (Y01/Y02/Y09/Y10/nas)
    “Perubahan pada suatu masyarakat tidak dapat dihalangi. Adat tak dapat berbuat banyak menghadapi perubahan. Adat sering kali hanya menerapkan peraturan, namun tidak mampu menindak.”

B.Analisis
Jika kita melihat ulasan di atas, dapat kita analisis bahwa Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan warga masyarakat Baduy, diawali dengan tanggapan mereka terhadap pikukuh sebagai identitas yang telah lama dipegang, adanya hubungan dengan masyarakat diluar kehidupan Baduy, menyebabkan munculnya beberapa keinginan yang dapat melanggar pikukuh, sehingga pemuka adat perlu turun tangan untuk mengatasinya.
Masyarakat Badui dapat digolongkan sebagai masyarakat masyarakat primitif. Kehidupan masyarakatnya masih memenuhi kebutuhan hidupnya pada kebutuhan-kebutuhan yang paling dasar atau pokok.
Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat baduy termasuk Teori Evolusi (Evilution Theory), karena teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahanyang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam- macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu ;Unilinear Theories Of Evolution, Universal Theories Of Evolution dan Multilined Theories Of Evolution.
Dalam masyarakat badui juga terdapat bentuk perubahan sosial yang tidak berpengaruh seperti perubahan pakaian yang diungkap di atas. Lelaki dari Badui Luar menggunakan ikat kepala biru bermotif batik. Perempuannya menggunakan kain batik dan baju biru tua atau hitam. Namun, banyak juga di antara mereka berkaus dan bercelana jins. Selain itu juga makanan mereka yang biasanya hanya ikan, kini mie instan juga mulai dikenal.
  Dalam perubahan sosial terdapat factor pendorong dan penghambat, begitu pula dengan perubahan sosial masyarakat Badui. Sebelum terjadi beberapa perubahan pada masyarakat Badui seperti keterangan harian kompas di atas, masyarakat badui mengalami suatu keadaan yang sangat primitive atau terhambatnya perubahan sosial dan  Faktor-Faktor Penghambat Perubahan tersebut di antaranya:
v  Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Sebelum adanya wisatawan asing yang mengetahui keberadaan badui kehidupan mereka normal tanpa ada gangguan perubahan sosial yang terjadi. Karena mereka hanya hidup dengan mengandalkan aturan dari tetuanya. Kehidupan terasing masyarakat badui menyebabkan mereka tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat badui menjadi statis.
v  Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan
ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, bahkan mereka memang dilarang untuk menonton tv seperti yang dijelaskan di atas. Sehingga mereka sangat sedikit sekali memperoleh informasi dan pengetahuan.
v  Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional
Pada masyarakat Badui terdapat para tetua yang masih suka mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Akan tetapi agak berbeda dengan keadaan masyarakat badui yang masih muda, mereka sedikit banyak sudah terkontaminasi dengan budaya luar.

v  Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan.
Seperti yang terjadi pada cerita di atas Dalam hal makanan, orang Baduy tergolong sangat fanatik. Mereka tidak mau menyantap makanan selain makanan tradisional yang mereka santap setiap hari. Maklum, masyarakat yang tinggal di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini sangat memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka hingga saat ini.
 Pada saat sekarang ini, akibat globalisasi terjadi perubahan pada masyarakat badui sedikit demi sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh Faktor-Faktor  Pendorong Perubahan diantaranya adalah:
v  Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain

Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Hal ini sesuai dengan kondisi masyarakat Baduy yang  tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir  sehingga  kebudayaan luar belum masuk. Selain itu, orang Baduy dalam merupakan yang paling patuh kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Pu’un (Kepala Adat). Akan tetapi seiring berjalannya waktu banyak wisatawan baik dalam maupun luar negri yang datang mengunjungi suku Badui dengan membawa pengaruh yang bermacam-macam yang jelas berbeda dengan adat Baduy.
Walaupun demikian perubahan dapat terjadi tanpa melanggar pikukuh, karena memang perbuatan tersebut dikehendaki atau keadaan yang memaksa sehingga perubahan terjadi diluar kehendak mereka, sehingga muncul toleransi dari pemuka adat terhadap hal itu.
v  Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification )
Masyarakat Badui saat ini jauh lebih terbuka dan lebih bisa di ajak bergaul ketimbang masyarakat Badui yang terdahulu, sehingga memudahkan mereka menerima kebudayaan baru walaupun hal itu sangat di larang keras oleh tetua/pu’un mereka.
Seperti yang diungkap pada kisah di atas selain berbahasa Indonesia, beberapa orang Baduy Dalam bisa pula menggunakan kata-kata berdialek Betawi, bahkan mengeluarkan kosakata bahasa Inggris. “Temen saya yang tinggal di Pondok Indah, Jakarta, punya istri orang Australia. Saya sering denger mereka ngomong bahasa Inggris,” ujar Jakri salah satu Badui Dalam menjelaskan dari mana ia mendapatkan pengetahuan tentang bahasa Inggris. Selain itu berteman akrab dengan orang Baduy Dalam tidak sulit karena orang-orang Baduy bersikap terbuka terhadap orang asing.
v  Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka saat ini menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio.  Sehingga mau tidak mau mereka berfikir untuk bisa mengikuti tren saat ini dan menunjukkan bahwa mereka juga merasa kurang puas dengan tekhnologi  yang mereka punya selama ini. Mereka ingin memiliki pengetahuan yang lebih dengan menonton tv atau mendengarkan radio.

III. PENUTUP
A.      Kesimpulan
    Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy.
      Masyarakat Badui dapat digolongkan sebagai masyarakat masyarakat primitif. Kehidupan masyarakatnya masih memenuhi kebutuhan hidupnya pada kebutuhan-kebutuhan yang paling dasar atau pokok.
   Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan
dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat.
Seperti masyarakat lain, mereka menonton televisi, menggunakan jam
tangan, dan bahkan memiliki radio. Inilah yang menjadi salah satu perubahan sosial masyarakat badui.
Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat baduy termasuk Teori Evolusi (Evilution Theory), karena teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahanyang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam- macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu ;Unilinear Theories Of Evolution, Universal Theories Of Evolution dan Multilined Theories Of Evolution.
B.      Saran
Sangatlah penting bagi kita sebagai mahasiswa ilmu sejarah  untuk mengetahui perubahan kebudayaan masyarakat badui yang memiliki sejarah dan kebudayaan unik di Negara kita.Karena dengan mengetahuinya kita bisa menilai mana perubahan yang negative dan positif, sehingga kita dapat melestarikan kebudayaan masyarakat badui yang harusnya terjaga akan tetap utuh.
IV. DAFTAR PUSTAKA

ü  Materi Sosiologi







2 komentar:

  1. Thanks..
    Sangat membantu tugas saya ^^

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum
    menarik sekali ulasan yang anda sampaikan
    saya ingin bertanya apakah penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan atau hanya studi pustaka
    terimakasih

    salam
    saya seorang teknik yang tertarik terhadap dinamika sosial
    :)

    BalasHapus